ulumul qur'an
NAMA :ROSMAINI
HARAHAP
NIM :1630200034
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Al-Qur’an
1.
Pengertian Al-Quran Secara Etimologi
Secara etimologi kata al-Qur’an ialah kata masdar dari asal kata
qara’a yang artinya “bacaan”. Namun dalam hal ini para ulama berbeda pendapat
mengenai lafadz al-Qur’an. Sebagian berpendapat bahwa lafadz al-Qur’an itu
tidak dibubuhi huruf hamzah (dibaca al-Quran), sedangkan yang lain mengatakan
bahwa lafadz al-Qur’an itu dibubuhi huruf hamzah (dibaca al-Qur’an).
Berikut berbagai pendapat mengenai asal kata lafadz al-Qur’an :
1. Al-Syafi’I,
Salah seorang imam mazhab yang terkenal (150-204 H.) berpendapat,
bahwa kata alqur’an itu ditulis dan dibaca tanpa hamzah (al-Quran, bukan
al-Qur’an) dan tidak diambil dari kata lain. Ia adalah nama yang khusus
digunakan untuk kitab suci yang diberikan kepada Nabi Muhammad, sebagaimana
nama Injil dan taurat yang digunakan khusus untuk kitab-kitab Allah yang
diberikan masing-masing kepada Nabi Isa dan Nabi Musa.
2. Al-farra’
seorang ahli bahasa yang terkenal, pengarang kitab ma’anil Qur’an
tidak menggunakan hamzah dan diambil dari kata qarain jamak qarinah, yang
artinya indikator (petunjuk). Hal ini disebabkan sebagian ayat-ayat al-Qur’an
itu serupa satu dengan yang lain, maka seolah-olah sebagian ayat-ayatnya itu
merupakan indikator dari yang dimaksud oleh ayat lain yang serupa itu.
3. Al-Asy’ari
seorang ahli Ilmu Kalam, pemuka aliran sunni (wafat 324 H.)
berpendapat, bahwa lafal al-Qur’an tidak menggunakan hamzah dan diambil dari
kata قًََرَن, yang artinya menggabungkan. Hal ini
disebabkan surat-surat dan ayat-ayat al-Qur’an itu dihimpun dan digabungkan
dalam satu mushaf.
4. Al-Zajjaj,
Pengarang kitab Ma’anil Qur’an (wafat 311 H.) berpendapat, bahwa
lafal al-Qur’an itu berhamzah, berwazan Fu’lan, dan diambil dari kata القَرَءُ, yang artinya
penghimpunan. Hal ini disebabkan al-Qur’an merupakan kitab suci yang menghimpun
intisari ajaran-ajaran dari kitab-kitab suci sebelumnya (perhatikan S.
Al-Bayyinah: 2-3).
5. Al-Lihyani,
Seorang ahli bahasa (wafat 215 H.) berpendapat, bahwa lafal
al-Qur’an itu berhamzah, bentuk masdar dan diambil dari kata قَرَاءَ, yang artinya membaca.
Hanya saja lafal al-Qur’an ini menurut Al-Lihyani adalah masdar bi ma’na isim
maf’ul. Jadi, Qur’an artinya maqru’ (dibaca).[1]
B.
Nama-Nama
Lain Al-Qur’an
1.
Tanzil
Tanzil merupakan kata verbar dari kata nazzala
“menurunkan” dengan demikian berarti
“diturunkan”.
2.
Adz-Zikir: Artinya pembei peringatan.
Artinya
:Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya. QS. Al-Hijr 9
3.
Al-Furqan.
Al-Quran juga
disebut Al-Furqan, yaitu pembeda antara yang hak dan yang batil. Artinya : dan
kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan[
Yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
QS. Al-Anfal 41.[2]
C.
Proses Di Turunkan Al-Qur’an
Al-qur’an
di turunkan sedikit demi sedikit, berangsur-angsur, bukan sekaligus semuanya.
Memang sudah di peroleh dari kenyataan penelitian yang lengkap bahwa Al-Qur’an
itu diturunkan menurut keperluan.
Kata
An-Nakhrawy dalam kitab Al-Waqaf: Al-Qur’an itu diturunkan bercerai berai, satu
ayat, dua ayat, tiga ayat, empat ayat, dan lebih banyak dari itu,
Kata
setengah ulama: diantara ayat-ayat Al-Qur’an, ada yang diturunkan bercerai
berai, ada yang diturunkan berkumpul-kumpul.[3]
NAMA : ROSMAINI HARAHAP
NIM :1630200034
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Fase Turunnya Al-Qur’an
Allah SWT menjelaskan secara umum tentang
turunnya Al-Quran dalam tiga tempat dalam Al-Quran, masing-masing :
1. Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan
شَهْرُ
رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ
Bulan Ramadhan,
bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur`an ( al-Baqarah:
185 ).
2.
Al-Quran diturunkan pada malam Lailatul Qadar
إِنَّا
أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sesungguhnya
Kami telah menurunkannya pada malam lailatul qadar.` ( al-Qadr : 1
)
3.
Al-Quran diturunkan pada malam yang diberkahi
إِنَّا
أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya ( Qur`an
) pada malam yang diberkahi.` (QS ad-Dhukhan: 3 ).
Ketiga ayat diatas tidak bertentangan, karena
malam yang diberkahi adalah malam lailatul qadar dalam bulan ramadhan. Tetapi
lahir ( zahir ) ayat-ayat itu bertentangan dengan kehidupan nyata Rasulullah
SAW , dimana Qur`an turun kepadanya selama dua puluh tiga tahun.[1]
B.
Ciri-Cirinya
Ciri-ciri
Ayat Madaniyyah menurut as-Suyuti sebagai berikut:
1. Surah yang di dalamnya terdapat izin
berperang atau menyebut soal peperangan dan menjelelaskan hukum-hukumnya.
2. Surah yang di dalamnya terdapa
rincian hukum had, farā’id, hukum sipil, hukum social, dan hukum antarnegara.
3. Surah yang di dalamnya terdapat
uraian tentang kaum munfik, kecuali surah Al-‘Ankabut yang termasuk makiyyah
selain 11 ayat pada pendahuluannya adalah madaniyyah. Dalam surah itu terdapat uraian
tentang kaum munafik.
4. Bantuan terhdap Ahl al-Kitāb dan
seruan agar merek mau meninggalkan sikap berlebihan dalam mempertahnkn agamnya.
5. Sebagian besar ayatnya
pnjang-panjang dan susunan kalimtnya yang mengenai soal-soal hukum bernada
tenang
6. Mengemukakan dalil-dalil dan
pembuktian mengenai kebenaran agama islam secara rinci. Ciri khas masing-masing
kategori makiyyah dan madaniyyah telah di terhampar, namun ulama masih
berselisih dlm menenukan dan menetapkan jumlah surah keduanya. Al-Khudary dalam
Tārīkh Tasyrī seperti di kutip ash-Shiddieqy (2000 : 185), misalnya menetapkan
kategori makiyyah 91 surah dan 23 surah untuk ketegori madaniyyah. (2008 : 75)
C. Bentuk-bentuknya
1. Nama Dan Bagian-Bagian Liturgis
Kitab suci kaum muslimin lazim di
sebut (dengan transliterasi yang keta) Al-Qur’an. Untuk tujuan pembacaannya,
kaum muslimin membagi Al-Qur’an kedalam tiga puluh bagian atau juz. Pembagian
tiga puluh juz berkaitan dengan jumlah hari pada bulan Ramadhan, bulan puasa,
ketika satu juz Al-Qur’an dibaca setiap harinya. Juz-juz biasanya di beri
tanda-tanda pinggiran halaman kitab suci tersebut. Dalam setiap juz terdapat
dua hizb. Untuk memudahkan pembacaan dalam seminggu, juga terdapat suatu
pembagian Al-Qur’an kedalam tujuh manazil. Keseluruhan ini merupakan
bagian-bagian luar yang kurang atau tidak di perhitungkan dalam bagian-bagian
Al-Qur’an yang lazim yakni surat-surat dan kelompok-kelompok surat.
2. Surat Dan Ayat
Surat merupakan bagian tubuh
Al-Qur’an yang sebenarnya. Pandangan umm yang paling diterima adalah bahwa kata
tersebut bersal dari bahasa ibrani “shurah” artinya suatu deretan
bekas-bekas batubata didinding dan bekas pepohonan anggur.
Surat terbagi kedalam ayat diistilahkan dalam bahasa arab.
Kata ini juga digunakan dalam teks Al-Qur’an. Pada umumnya kata aya lebih
bermakna”tanda”, “mukzijat”.
3. Huruf-Huruf Misterius
Pada permulaan 29 surah, setelah
bismillah, terdapat suatu huruf atau kelompok huuf, yang secara sederhana
dibaca sebagai huruf-huruf abjad yang terpisah. Huruf-huruf ini merupakan suatu
misteri. Tidak ada penjelasan yang memuaskan tentang maknanya, jika memang ada
yang perna diberikan juga tidak pernah ditemui alas an yang memungkinkan
tentang kemunculannya dalam posisi awal surah-surah Al-Qur’an.
4. Bentuk Dramatis
Telah kita ketahui bahwa nabi
menyakini bahwa pesan ketuhanan dating kepadanya melalui bisikan dari luar, dan
ia juga menarik perbedaan jelas antara apa yang dating kepadanya melalui cara
semacam ini dengan pikiran dan perkataan sendiri.[2]
[1] Http://Makalahpendidikanislamlengkap.Blogspot.Co.Id/2015/06/Makalah-Proses-Turunnya-Al-Quran.Html, Diunggah Pada Tangal: 01-09-2017,
Pukul: 12.00WIB
[1]Http://Makalahpendidikanislamlengkap.Blogspot.Co.Id/2015/06/Makalah-Proses-Turunnya-Al-Quran.Html, Diunggah Pada Tanggal 01-09-2017,
Pada Pukul:13.00 WIB
[2] Richard Bell,Pengantar
Studi Al-Qur’an, (Jakarta:Pt.. Raja Grafindo Persada, 1995), Cet.2, hal. 229-231
[3] Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah Dan Pengantar Ilmu
Al-Qur’an, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000) hal. 48
Komentar
Posting Komentar