ulumul quran
Sejarah
Perkembangan Maakkiyah dan Madaniyyah
Dikalangan
ulama terdapat beberapa pendapat tentang dasar atau kriteria yang dipakai untuk
menentukan Makkiyyah dan Madaniyyah suatu surat atau ayat.
Sebagian
ulama menetapkan lokasi turunnya ayat-ayat atau surat sebagai dasar penentuan
Makkiyyah dan Madaniyyah, sehingga mereka membuat definisi Makkiyyah dan
Madaniyyah sebagai berikut:
Yang diartikan sebagi berikut: “Makiyah
ialah yang diturunkan dimakkah sekalipun turunnya sesudah hijrah, madaniyah
ialah yang diturunkan di madinah”
Agak
sulit memang melacak dan mengidentifikasi secara pasti ayat-ayat Makkiyyah dan
Madaniyyah karena urutan tata tertib ayat tidak mengikuti kronologi waktu
turunnya ayat tetapi berdasarkan petunjuk nabi. Lagi pula pada mushaf usmani
yang menjadi acuan sejak semula disusun mengikuti petunjuk nabi.
Koleksi mushaf para sahabat yang
diantaranya ada yang ditulis berdasarkan turunnya ayat, semuanya sudah dibakar
setelah tim penyusun al-Quran yang dibentuk Usman bin Affan menyelesaikan
tugasnya. Jadi pembakaran mushaf tersebut bisa juga berarti sebagai kerugian
intelektual, karena dengan demikian menjadi sulit melacak kronologi ayat
berdasarkan waktu turunnya. [2]
C.
Perbedaan Makkiyah dan Madaniyyah
1.
Ciri-ciri khusus surat makkiyah
a.
Mengandung ayat sajdah (Al-A’raf : 206, A-Nahl : 149,
An-Nahl : 50, Al-Isra’ : 107, Al-Isra’ : 108, Al-isra’ : 109, Maryam : 85,
Al-Furqan : 60.)
b.
Terdapat lafal kalla sebagian besar ayatnya (Al-Humazah : 4)
كلا
لينبذن فى الحطمة
c.
Terdapat seruan dengan ya ayyuhannasu contonhya dalam surat Yunus :
57,
يايهاالناس
قدجاءتكم موعظة من ربكم وشفاءلما فى الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين
d.
Mengandung kisah nabi-nabi dan umat-umat yang telah lalu, kecuali surat
Al-Baqarah (surat Al-A’raaf : kisah Nabi Adam dengan iblis, kisah Nabi Nuh dan
kaumnya, kisah Nabi Shalih dan kaumnya, kisah Nabi Syu’aib dan kaumnya, kisah
Nabi Musa dan Firaun).
Contohnya dalam surat Al-A’raf : 11 yang artinya :
“sesungguhnya kami telah menciptakan kamu (adam), lalu kami bentuk tubuhmu,
kemudian kami katakana kepada malaikat : bersujudlah kamu kepada adam. Maka
merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.”
f.
Setiap suratnya terdapat Sujud Tilawah, sebagian ayat-ayatnya.
g.
Semua atau sebagian suratnya diawali huruf tahajji seperti Qaf (ق
(, Nun ( ن ), Kha Mim ( حم
) contonya (ص) dalam surat Shaad : 1
h.
Ayat-ayatnya dimulai dengan huruf terpotong-potong (al-ahraf al-muqatha’ah atau
fawaatihussuwar), seperti “الم (surat
Ar-Rum :1), الر
(surat Hud :1),هم “, kecuali Q.S
Al-Baqoroh dan Ali ‘Imron.[4]
2.
Ciri-ciri surat makkiyah yang aghlaniyah (umum)
a.
Ayat-ayatnya pendek, surat-suratnya pendek (An-Nass 6 ayat, Al-Ikhlas 4
ayat, Al-Falaq 5 ayat, Al-Lahab 5 ayat), nada
perkataannya keras dan agak bersajak (surat Al-Ashr).
والعصر.
ان
الانسن لفى خسر.
الا
الذين ءامنوا وعملواالصلحت وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر.
b.
Mengandung seruan pokok-pokok iman kepada Allah, hari akhir dan menggambarkan
keadaan surga dan neraka.
c.
Menyeru manusia berperagai mulia dan berjalan lempang di atas jalan kebajikan
(An-Nahl, = akhlak-akhlak baik)
d.
Mendebat orang-orang musyrik dan menerangkan kesalahan-kesalahan pendirian
mereka
(surat Al-Kahfi ayat 102-108)
e.
Banyak terdapat lafadz sumpah.[5]
(surat Al-Anbiyaa’ : 57)
وتا
الله لاكيدن اصتمكم بعد ان تولوا مدبرين
3.
Ciri-ciri khusus surat madaniyyah
a. Di dalamnya ada izin
berperang atau ada penerangan tentang hal perang dan penjelasan tentang hukum-hukumnya. (QS. Al-Ahzab = tentang perang
ahzab / khandaq).
b. Di dalamnya terdapat
penjelasan bagi hukuman-hukuman tindak pidana, fara’id, hak-hak perdata,
peraturan-peraturan yang bersangkut paut dengan bidang keperdataan,
kemasyarakatan dan kenegaraan. (QS. An-Nur = tentang
hukum-hukum sekitar masalah zina, li’an, adab-adab pergaulan di luar dan di
dalam rumah tangga. QS. Al-Ahzab = tentang hukum zihar, faraid)
c. Di dalamnya
tersebut tentang orang-orang munafik (surat An-Nur ayat 47-53 tentang
perbedaan sikap orang-orang munafik dengan sikap orang-orang muslim dalam
bertakhim kepada Rasul)
d. Di dalamnya didebat para
ahli kitab dan mereka diajak tidak berlebih-lebihan dalam beragama, seperti
terdapat dalam surat Al-Baqarah, An-Nisa’, Ali Imran, At-Taubah dan lain-lain.[6]
4.
Ciri-ciri surat madaniyyah yang aghlaniyah (umum)
a. Suratnya
panjang-panjang, sebagian ayatnya pun panjang serta jelas menerangkan hukum
(QS. Al-Baqarah surat dan ayatnya panjang, dan didalamnya terdapat hukum haji
dan umrah, hukum qishas, hukum merubah kitab-kitab Allah, hukum haid, iddah,
hukum bersumpah, hukum arak dan judi)
b. Menjelaskan
keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang menunjukkan kepada hakikat-hakikat
keagamaan.
D.
Beberapa Contoh Ayat Makkiyah dan Madaniyah
1.
Makkiyah[7]
Diantaranya :
|
1
|
Al-‘Alaq
|
47
|
An-Naml
|
|
2
|
Al-Qolam
|
48
|
Al-Qoshash
|
|
3
|
Al-Muzzammil
|
49
|
Al-Isro’
|
|
4
|
Al-Muddatstsir
|
50
|
Yunus
|
|
5
|
Al-Fatihah
|
51
|
Hud
|
|
6
|
Al-Lahab
|
52
|
Yusuf
|
|
7
|
At-Takwir
|
53
|
Al-Hir
|
|
8
|
Al-A’la
|
54
|
Al-An’am
|
|
9
|
Al-Lail
|
55
|
Ash-Shaffat
|
|
10
|
Al-Fajr
|
56
|
Luqman
|
|
11
|
Ad-Dhuha
|
57
|
Saba’
|
|
12
|
Al-Insyiroh
|
58
|
Az-Zumar
|
|
13
|
Al-Ashr
|
59
|
Ghofir
|
|
14
|
Al-Adiyat
|
60
|
Fushshilat
|
|
15
|
Al-Kautsar
|
61
|
Asy-Syura
|
|
16
|
At-takatsur
|
62
|
Az-Zukhruf
|
|
17
|
Al-Ma’un
|
63
|
Ad-Dukhan
|
|
18
|
Al-Kafirun
|
64
|
Al-Jatsiah
|
|
19
|
Al-Fiil
|
65
|
Al-Ahqof
|
|
20
|
Al-Falaq
|
66
|
Al-Adzariyat
|
|
21
|
An-Nas
|
67
|
Al-Ghosiyah
|
|
22
|
Al-Ikhlas
|
68
|
Al-Kahfi
|
|
23
|
An-Najm
|
69
|
An-Nahl
|
|
24
|
‘Abasa
|
70
|
Nuh
|
|
25
|
Al-Qodar
|
71
|
Ibrahim
|
|
26
|
Asy-Syams
|
72
|
Al-Anbiya’
|
|
27
|
Al-Buruj
|
73
|
Al-Mu’minun
|
|
28
|
At-Tiin
|
74
|
As-Sajadah
|
|
29
|
Al-Quroisy
|
75
|
At-Thur
|
|
30
|
Al-Qori’ah
|
76
|
Al-Mulk
|
|
31
|
Al-Qiyamah
|
77
|
Al-Haqqoh
|
|
32
|
Al-Humazah
|
78
|
Al-Ma’arij
|
|
33
|
Al-Mursalat
|
79
|
An-Naba’
|
|
34
|
Qaf
|
80
|
An-Nazi’at
|
|
35
|
At-Thoriq
|
81
|
Al-Balad
|
|
36
|
Al-Qomar
|
82
|
Al-Infithor
|
|
37
|
Shad
|
83
|
Al-Insyiqoq
|
|
38
|
Al-A’rof
|
84
|
Ar-Rum
|
|
39
|
Jinn
|
85
|
Al-Ankabut
|
|
40
|
Yasin
|
86
|
Al-Muthoffifin
|
|
41
|
Al-Furqon
|
87
|
Al-Zalzalah
|
|
42
|
Fathir
|
88
|
Ar-Rod
|
|
43
|
Maryam
|
89
|
Ar-Rohman
|
|
44
|
Thoha
|
90
|
Al-Insan
|
|
45
|
Al-Waqiah
|
91
|
Al-Bayyinah
|
|
46
|
Asy-Syu’ara
|
2.
Madaniyah[8]
Diantaranya :
|
1
|
Al-Baqoroh
|
13
|
Ali-Imron
|
|
2
|
Al-Anfal
|
14
|
Al-Ahzab
|
|
3
|
Al-Mumtahanah
|
15
|
Al-Hujurat
|
|
4
|
An-Nisa’
|
16
|
At-Tahrim
|
|
5
|
Al-Hadid
|
17
|
At-Taghabun
|
|
6
|
Al-Qital
|
18
|
As-Shaf
|
|
7
|
At-Tholaq
|
19
|
Al-Jumuah
|
|
8
|
Al-Hasr
|
20
|
Al-Fath
|
|
9
|
An-Nur
|
21
|
Al-Maidah
|
|
10
|
Al-Hajj
|
22
|
At-Taubah
|
|
11
|
Al-Munafiqun
|
23
|
An-Nashr
|
|
12
|
Al-Mujadilah
|
E.
Fungsi Memahami Ilmu Makkiyah dan Madaniyah
An-Naisaburi
dalam kitabnya At-Tanbih ‘ala Fadhl Ulum Al-Quran, memandang subjek
makkiyah dan madaniyyah sebagai ilmu Al-Quran yang paling utama. Sementara itu
, Manna’ Al-Qaththan mencoba lebih jauh lagi dalam mendeskripsikan urgensi
mengetahui makkiyah dan madaniyyah sebagai berikut.
1.
Membantu dalam menafsirkan Al-qur’an
Pengetahuan
tentang peristiwa-peristiwa di seputar turunnya Al-Qur’an tentu sangat membantu
dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, kendatipun ada teori yang
mengatakan bahwa yang harus menjadi patokan adalah keumuman redaksi ayat dan
bukan kehususan sebabin. Dengan mengetahui kronologis Al-Quran pula, seorang
mufassir dapat memecahkan makna kontradiktif dalam dua ayat yang berbeda, yaitu
dengan pemecahan konsep nasikh-mansukh yang hanya bisa diketahui melalui
kronologi Al-Quran.
2.
Pedoman bagi langkah-langkah dakwah
Setiap
kondisi tentu saja memerlukan ungkapan-ungkapan yang relevan. Ungkapan-ungkapan
dan intonasi berbeda yang digunakan ayat-ayat makkiyah dan ayat-ayat madaniyyah
memberikan informasi metodologi bagi cara-cara menyampaikan dakwah agar relevan
dengan orang yang diserunya. Oleh karena itu, dakwah Islam berhasil mengetuk
hati dan menyembuhkan segala penyakit rohani orang-orang yang diserunya. Di
samping itu, setiap langkah-langkah dakwah memiliki objek kajian dan
metode-metode tertentu, seiring dengan perbedaan kondisi sosio-kultural manusia.
Periodisasi makkiyah dan madaniyyah telah memberikan contoh untuk itu.
3.
Memberi informasi tentang sirah kenabian
Penahapan
turunnya wahyu seiring dengan perjalanan dakwah nabi, baik di mekah atau di
madinah, dimulai sejak diturunkannya wahyu pertama sampai diturunkannya wahyu
terakhir. Al-Quran adalah rujukan otentik bagi perjalanan dakwah nabi itu.
Informasinya tidak bisa diragukan lagi.
Mengetahui
sejarah hidup nabi melalui ayat-ayat Al-Quran, sebab turunnya wahyu kepada
Rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dan segala peristiwa yang
menyertainya, baik pada periode makkah maupun periode madinah, sejak turun
iqra’ sampai ayat yang terakhir diturunkan. Al-Quran adalah sumber pokok bagi
hidup Rasulullah. Pola hidup beliau harus sesuai dengan Al-Quran dan Al-Quran
pun memberikan kata putus terhadap perbedaan riwayat yang mereka riwayatkan. [9]
Selain itu juga pengetahuan
tentang makkiyah dan madaniyah banyak membawa hikmah dan faedah serta kagunaan
yang bermacam-macam, antara lain sebagai berikut:
1.
Mudah diketahui mana ayat-ayat yang turun lebih dahulu dan mana ayat yang turun
belakangan dari kitab suci Al-Quran
2.
Mudah diketahui mana ayat-ayat Al-Quran yang hukum bacaannya telah dinaskh
(dihapus dan diganti) dan mana ayat-ayat yang menasakhkannya, khususnya bila
ada dua ayat yang menerangkan hukum sesuatu masalah, tetapi ketetapan hukumnya
bertentangan yang satu dari yang lain.
3.
Mengetahui dan mengerti sejarah pensyariatan hukum-hukum Islam (Taarikhut
Tasyri’) yang amat bijaksana dalam menetapkan peraturan-peraturan.
4.
Mengetahui hikmah disyariatkannya suatu hukum.
5.
Mengetahui perbedaan dan tahap-tahap dakwah Islamiah.
6.
Mengetahui perbedaan ushlub-ushlub (bentuk-bentuk bahasa) Al-Quran yang dalam
surat-surat makkiyah berbeda dengan yang ada dalam surat madaniyah.[10]
F.
Ayat-ayat Al-qur’an Diturunkan Di Luar Kota Makkah dan Madinah
1. Ayat
yang di bawa dari makkah ke madinah
Contohnya ialah surat Al-A’la. HR. Al-Bukhari dari Al-Bara’ bin Azib yang
mengatakan, “orang yang pertama kali datang kepada kami di kalangan sahabat
Nabi adalah Mush’ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum keduanya membacakan Al-Quran
kepada kami. Sesudah itu datanglah Ammar, Bilal dan Sa’ad. Kemudian datang pula
Umar Bin Khattab sebagai orang yang kedua puluh. Baru setelah itu datanglah
Nabi. Aku melihat penduduk Madinah bergembira setelah aku membaca sabbihismarabbikal
a’la dari antara surat yang semisal dengannya.”
Pengertian
ini cocok dengan Al-quran yang dibawa oleh golongan muhajirin, lalu mereka
ajarkan kepada kaum anshar.
2. Ayat
yang di bawa dari madinah ke makkah
Contohnya dari awal surat Baqarah, yaitu ketika Rasulullah SAW memerintahkan
kepada Abu Bakar untuk pergi haji pada tahun ke Sembilan. Ketika awal surat
Baqarah turun, Rasulullah memerintahkan kepada Ali bin Abi Thalib untuk membawa
surat tersebut kepada Abu Bakar, agar ia sampaikan kepada kaum musyrikin, maka
Abu Bakar pun membacakannya kepada mereka dan mengumumkan bahwa tahun ini tidak
ada oseorang musyrik pun yang boleh berhaji.
3. Ayat
yang turun di waktu dalam perjalanan
Mayoritas
ayat-ayat dan surat-surat Al-Quran turun pada saat Nabi dalam keadaan menetap.
Akan tetapi, karena kehidupan Rasulullah tidak pernah lepas dari jihad dan
peperangan di jalan Allah, maka wahyu pun turun juga dalam perjalanan tersebut.
Imam As-Suyuthi menyebutkan awal surat Al-Anfal yang turun di Badar setelah
selesai perang, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Sa’ad bin Abi
Waqqash.
Sedangkan
ayatnya adalah sebagai berikut
والذين
يكنزون الذهب والفضة ولا ينفقونها فى سبيل الله
Diriwayatkan Ahmad dari Tsauban,
bahwa ayat tersebut turun ketika Rasulullah dalam salah satu perjalanan.
Juga awal surat Al-Hajj.
At-Tirmidzi dan Al-Haakim meriwayatkan dari Imran bin Hushain yang menyatakan
“ketika turun kepada Nabi ayat ‘wahai manusia, bertakwalah kepada tuhanmu,
sesungguhnya goncangan Hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar
… sampai dengan .. tetapi adzab Allah sangat kerasnya’ beliau sedang
berada dalam perjalanan.”
Begitu juga surat
Al-Fath. Al-Hakim dan yang lain meriwayatkan, dari Al-Miswar bin Makhramah dan
Marwan bin Al-Hakam, keduanya berkata “surat Al-Fath dari awal sampai akhir
turun di antara kota makkah dan madinah berkaitan dengan masalah perdamaian
Hudaibiyah.”
Sebagian dari
ayat Al-Quran tidak hanya turun di kota makkah dan sekitarnya dan tidak pula di
madinah dan sekitarnya, seperti firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 42 dan
pada surat Az-Zukhruf ayat 45. Yang kedua ayat tersebut tidak turun di kota
makkah dan sekitarnya dan tidak pula di kota madinah dan sekitarnya.
Menurut Ibnu
Katsir bahwa surat At-Taubah ayat 42 turun di tabuk, dan surat Az-Zukhruf ayat
45 diturunkan di abitul maqdis pada malam Isra’.[11]
4. Ayat
yang turun di Kota Arofah pada haji wada’[12]
Surat
Al-Baqarah ayat : 281
وَاتَقُوا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى
اللهِ ثُم تُوَفى َكُلُ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
“Dan
peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu
semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi Balasan
yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun
tidak dianiaya (dirugikan).”[13]
5. Ayat
yang turun di Kota Mina pada haji wada’
Surat
Al-Maidah ayat : 3[14]
حرمت
عليكم الميتة والدم و لحم الخنزير وما أهل لغير الله به والمنخنقة والموقوذة
والمتردية والنطيحة وما أ كل السبع إلاماذكيتم وماذبح على النصب وأن تستقسموا
بالأزلم ذالكم فسق اليوم يئس الذين كفروا من دينكم فلا تخشوهم واشون اليم
أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم الإسلم دينا فمن اضطر فى مخمصة غير
متجانف لإثم فإن الله غفوررحيم
“Diharamkan
bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih
atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang
ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya,
dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga)
mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah
kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan)
agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.
pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka
barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[15]
Komentar
Posting Komentar