I'JAZUL QURAN
Pengertian i’jaz al-qur’an
Dari
segi bahasa kata i’jaz diambil dari kata kerja a’jaza-i’jaza yang berarti
melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Ini sejalan dengan firman Allah SWT
yang berbunyi.
أَعْجَزَتُ أَنْ أَكُوْنَ مِثْلَ هَذَاالْغُرَابِ فَأُوَارِيَ
سَوْءَةَ أَخِيْ (المائدة:
Artinya:
“…Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini” (QS. Al Maidah (5): 31)
“…Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini” (QS. Al Maidah (5): 31)
Lebih
jauh Al-Qaththan mendefinisikan I’jaz dengan:
إِظْهَارُ صِدْقِ النَّبِيِِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فِىدَعْوَى الرِّسَالَةِ بِاظهَارِ عَجْزِ الْعَرَبِ عَنْ مُعَجِزَتِهِ
اْلخَالِدَةِ وَهِيَ اْلقُرْانُ وَعَجْرِ اْلأَجْيَالِ بَعْدَهُمْ.
Artinya:
“Memperlihatkan kebenaran Nabi SAW. atas pengakuan kerasulannya, dengan cara membuktikan kelemahan orang Arab dan generasi sesudahnya untuk menandingi kemukjizatan Al-Qur’an.”
Artinya:
“Memperlihatkan kebenaran Nabi SAW. atas pengakuan kerasulannya, dengan cara membuktikan kelemahan orang Arab dan generasi sesudahnya untuk menandingi kemukjizatan Al-Qur’an.”
Secara
istilah: Penampakan kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW. dalam ketidakmampuan
orang Arab untuk menandingi mukjizat nabi yang abadi, yaitu Al-qur’an
I’jazul
Quran (kemu’jizatan al-Qur’an) ialah kekuatan, keunggulan dan keistimewaan yang
dimiliki al-Qur’an yang menetapkan kelemahan manusia, baik secara
berpisah-pisah maupun berkelompok, untuk bisa mendatangkan sesuatu atau
menyamainya. Yang dimaksud dengan kemu’jizatan al-Qur’an bukan berarti
melemahkan manusia dengan pengertian melemahkan yang sebenarnya. Artinya
memberi pengertian kepada mereka tentang kelemahan mereka untuk mendatangkan
sesuatu yang sejenis dengan al-Qur’an; menjelaskan bahwa kitab al-Quran ini
haq, dan Rasul yang membawanya adalah Rasul yang benar. Pelakunya
(yang melemahkan) dinamai mu’jiz. Bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat
menonjol sehingga mampu membungkam lawan, ia dinamai mujizat.
I’jaz
dapat pula diartikan sebagai kemu’jizatan, yaitu sesuatu yang dapat melemahkan,
yang membuat sesuatu atau pihak lain tak berdaya. Pada dasarnya al-Mu’jiz (yang
melemahkan) itu adalah Allah Swt; yang menyebabkan selainnya lemah sebagai
bentuk mubalaghah (penegasan) kebenaran berita mengenai betapa lemahnya orang-
orang yang didatangi Rasul untuk menentang mu’jiz tersebut.[1]
B. Tujuan da Sejarah i’jaz al-qur’an
1. Tujuan i’jaz al-qur’an
Dari i’jaz diatas, dapat
diketahui bahwa tujuan i’jazul qur’an itu banyak diantaranya yaitu
a) Membuktikan bahwa nabi Mihammad SAW yang
membawa mu’jizat kitab al-qur’an itu adalah benar-benar seorang nabi/Rasul
Allah SWT. Beliau diutus menyampaikan ajaran – ajaran Allah kepada umat manusia
untuk mecanangkan ajaran-Nya tersebut.
b) Membuktikan bahwa al-qur’an
itu adalah benar – benar wahyu allah SWT, bukan buatan Malaikat Jibril dan
bukan tulisan Nabi Muhammad SAW tidak mungkin karena sudah kita ketahui bersama
bahwa Nabi Muhammad SAW orang yang ummi (tidak pandai menulis dan membaca), dan
sudah barang tentu pujangga-pujangga arab sudah profesional, dimana mereka
tidak hanya pandai menulis dan membaca tetapi juga ahli dalam sastra, grametika
bahasa arab, dan balaghahnya akan bisa membuat seperti al-qur’an itu bukan
buatan manusia.
c) Menunjukan kelemahan daya upaya
dan rekayasa umat manusia yang tidak sebanding dengan keangkuhan dan
kesombongannya. Meraka ingkar tidak mau beriman mempercayai wahyu al-qur’an dan
sombong tidak mau menerima kitab itu. Mereka menuduh bahwa kitab itu hasil
lamunan atau buatan Nabi Muhammad SAW sendiri, kenyataannya para pugangga
sastra arab tidak mampu membuat tandingan yang seperti Al-qur’an itu, walaupun
hanya satu ayat.
d) Menunjukan kelemahan mutu
sastra dan balaghah manusia, karena terbukti para pakar – pakar pujangga sastra
dan seni arab tidak ada yang mkampu mendatangkan kitab tandingan yang seperti
al-qur’an yang telah ditantang kepada mereka dalam berbagai tinggat.
2. Sejarah ilmu i’jazul Qur’an
Ada ulama yang berpendapat, bahwa orang yang pertama
kali menulis i’jazul Qur’an ialah Abnu Ubaidah (wafat 208H) yang menulis
kitabnya “Majazul Qur’an”, lalu disusun oleh Al-Farra (wafat 207H) yang menulis
kitab “Ma’anil Qur’an”, kemudian disusun lagi oleh Ibnu Quthaibah yang
mengarang kitab Ta’wil Musyakil Qur’an”. Namun pernyataan tersebut dibantah
oleh Abdul Qohir Al-Jurjany dalam kitabnya “Dalailul I’jaz”, bahwa kitab
tersebut diatas bukanlah ilmu i’jazul Qur’an melainkan sesuai dengan nama judul
– judulnya itu.
Menurut Dr. Shubhi Ash-Shaleh dalam kitabnya
“Makahis Fi Ulumul Qur’an”, bahwa orang yang pertama kali membicarakan I’jazul
Qur’an adalah Imam Al-Jahili (wafat 225H), ditulis dalam kitab “Nuzhumul
Qur’an”. Hal ini seperti diisyaratkan dalam kitabnya yang lian, Al- Hawayan,
lalu disusul Muhammad bin Zaid Al-Wasithy (wafat 306H), dalam kitab I’jazul
Qur’an, yang banyak mengutip isi kitab Al-Jahidh tersebut diatas. Kemudian
dilanjutkan Iman Ar-rumany (wafat 384H). Lalu disusul oleh Al-Qadhi Abu Bakar
Al-Baqilly (wafat 403H) dalam kitabnya i”jazul Qur’an, yang isinya ngengusap
segi –segi kemu’jizatan, kitab ini sangat populer. Kemudian disusun oleh
Abdul Qohir Al-Jumany (wafat 471H) dalam
kitab Dala’ilul I’jaz dan Asarul Balaghah.
C. Macam – macam mu’jizat
Mu’jizat dapat bagi menjadi
dua macam, yaitu:
1. Mu’jizat Indrawi “ Hissiyyah”, ialah yang dapat dilihat
oleh mata, didengar oleh telinga, dicium oleh hidung, diraba oleh tangan,
dirasa oleh lidah, tagasnya dapat dicapai oleh tanca indra. Mu’jizat ini
sengaja ditunjukan atau diperlihatkan manusia biasa, yakni mereka yang tidak
bisa menggunakan kecerdasan fikirannya, yang tidak cakap pandangan mata hatinya
dan yang randah budi dan perasaannya.
Mukjizat jenis ini muncul dari segi fisik yang
mengisyaratkan adanya kesaktian seorang nabi. Secara umum dapat diambil contoh
adalah mukjizat nabi Musa dapat membelah lautan, mukjizat nabi Daud dapat
melunakkan besi serta mukjizat nabi-nabi dari bani Israil yang lain.
2. Mu’jazat “ma’nawi” ialah mu’jizat yang tidak mungkin dapat
dicapai dengan kekuatan panca indra, tetapi harus dicapai dengan kekuatan “aqli” atau dengan kecerdasan pikiran.
Karena orang tidak akan mumgkin mengenal mu’jizat ini melainkan orang yang
berfikir sehat, bermata hati, berbudi luhur dan yang suka mempergunakan
kecerdasan berfikirnya dengan jernih serta jujur[2]
D. Macam – Macam I’jaz dalam
Al-Qur’an
1. I’jaz Bayaani
Yaitu suatu mu’jizat yang tidak ada
didalam Al-Qur’an satu kalimatpun yang dapat
ditambahkan oleh siapapun, ataupun dikurangi selain oleh Allah SWT.
2. I’jazul Ilmiyah
Yaitu
suatu Mu’jizat didalam al-Qur’an yang mengandung ilmu pengetahuan, meski ditemukan rahasia alam ini sudah berapa tahun
setelah turunnya Al-Qur’an,oleh para pakar alam, metafisika,
biologi, dan lainnya. Suatu contoh,
bertemunya dua laut, yang disebut
dalam Al-Qur’an, baru ditemukan rahasianya,
begitupun pertumbuhan janin ,
menggantungnya janin dalan rahim,
ilmu ini baru ditemukan
kebenarannya dan masih banyak lagi apa – apa
disebutkan seumpama, mengapa
diharamkannya babi, khamar.
Perbedaan – perbedaan tanah, didalan
jenisnya, sebagaimana didalam hadist, juga punya
I’jaz ilmiyah, seperti mengapa kita diminta menghindari diri dari terik mentari, karena akan mengurangi shahwat.
Ternyata telah diteliti ilmuwan, memeng berjemur di panas terik mentari
(siang bolong), ada zat – zat, atau hormon – hormon seksual yang rusak.
3. I’jazul Maudhu’i
Yaitu bagi siapa saja yang membaca
al-Qur’an ini dan memahaminya, melakukan apa – apa yang diperintahkan Allah SWT,
maka Allah SWT kelak akan memuliakannya dunia dan akhirat[3]
E.
Segi Kemu’jizatan al-Qur’an
1.
Segi Bahasa dan Susunan
Redaksinya
Sejarah telah menyaksikan bahwa bangsa arab pada
saat turunnya al-Qur’an telah mencapai tinggat yang belum pernah dicapai oleh
bangsa satu pun yang ada didunia ini, baik sebelum dan sesudah mereka dalam
bidang kefashihan bahasa (balaghah). Mereka juga telah meramba jalan yang belum
pernah diinjak orang lain dalam kesempurnaan menyampaikan penjelasan
(al-bayan), keserasian dalam menyusun kata-kata, serta kelancaran logika.
Oleh karena bangsa Arab telah mencapai taraf yang
begitu jauh dalam bahasa dan seni sastra, karena sebab itulah al-Qur’an
menantang mereka. Padahal mereka memiliki kemampuan bahasa yang tidak bisa
dicapai orang lain seperti kemahiran dalam berpuisi, syi’ir atau prosa
(natsar), memberikan penjelasan dalam langgam sastra yang tidak sampai oleh
selain mereka. Namun walaupun begitu mereka tetap dalam ketidak berdayaan
ketika dihadapkan dengan al-Qur’an.
Selanjutnya apabila ketidak mampuan bangsa Arab telah
terbukti sedangkan mereka pintar dalam bidang bahasa dan sastra, maka terbukti
pulalah kemu’jizatan al-Qur’an dalam segi bahasa dan sastra dan itu merupakan
argumentasi terhadap mereka mampu terhadap kaum-kaum selain mereka. Sebab
dipahami bahwa apabila sebuat pekerjaan tidak bisa dilakukan oleh mereka yang
ahli dalam bidangnya tentunya semakin jauh lagi kemustahilan itu bisa dilakukan
oleh mereka yang tidak ahli dibidangnya.[4]
Berkaitan dengan masalah pembuktian akan ketidak
mampuan bangsa Arab untuk menyaingi al-Qur’an para ulama banyak memberikan
komentar yang mengisyaratkan adanya perbedaan tenteng ihwal ketidak mampuan itu
bisa terjadi. Secara umum pendapat ulama dalam masalah sebab terjadinya
fenomena ketidak mampuan orang Arab untuk menandingi al-Qur’an ada dua
pendapat, yaitu:[5]
a)
Muncul dari facror i’jaz yang terkait dan inheren
dalam alQur’an.
b)
Muncul dari luar al-Qur’an dengan adanya kesenjangan
Allah untuk melemahkan orang Arab secara intelektual (sharfah)
2.
Segi Isyarat Ilmiah
Pemaknaan kemu’jizatan al-Qur’an dalam segi ilmiyyah
adalah dorongan serta stimulasi al-Qur’an kepada manusia untuk selalu berfikir
keras atas dirinya sendiri dan alam semesta yang mengitarinya[6].
Al-Qur’an memberikan ruangan sebebas-bebasnya pada pergulan pemikiran ilmu
pengetahuan sebagaimana halnya tidak ditemukan pada kitab-kitab agama lainnya
yang malah cenderung restriktif. Pada akhirnya teori ilmu pengetahuan yang telah
lulus uji kebenaran ilmiyah akan selalu koheren dengan al-Qur’an. Al-Qur’an
dalam mengemukakan dalil-dalil, argument serta penjelasan ayat-ayat imliah,
menyebutkan isyarat-isyarat ilmiah yang sebagiannya baru terungkap pada zaman
atom, planet dan penaklukan angkasa luar sekarang ini antaranya adalah:
a.
‘’Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui
bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah satu yang padu, kemudian
kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang
hidup. Maka mengapa mereka tiada juga beriman?’’(Q.S. Al-Anbiya). Dalam ayat ini terdapat isyarat ilmiah tentang
sejarah tata surya dan asal mula yang padu, kemudian terpisah-pisahnya
benda-benda langit, sebagian dari yang lain secara gradual. Begitu juga di
dalamnya terdapat isyarat tentang asal-usul kehidupan yaitu air.
b.
“Dan kami
tyelah meniupkan angin untuk mengawinkan(tumbuh-tumbuhan) dan kami turunkan
hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sesekali
bukanlah kamu yang menyimpan”(QS. Al-Hijr:2). Ayat ini memberikan isyarat
tentang peran angin dalam turunya hujan begitu juga tentang pembuahan serbuk
bunga tumbuh-tumbuhan.
c.
“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam
keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan
mereka.”(QS. Al-Zalzalah:6) ayat ini menjalaskan adanya pemeliharaan dan
pengabdian segala macam perbuatan manusia di dunia. Dan jika ini dapat
dilakukan manusia, maka pastilah itu jauh lebih mudah bagi Allah swt.
d.
“ Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun
(kembali) jari jemarinya dengan sempurnya” ( QS. Al-Qiyamah:4) diantara
kepelikan penciptaan manusia adalah sidik jarinya. Ayat ini menyebutkan
kenyataan ilmiah bahwa tidak ada jara-jari tangan seorang manusia yang bersidik
jari yang sama yang dengan manusia yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar